Listrik Kini Sudah Menyala, Warga Tanjung Boleng Nusa Tenggara Timur Tersenyum Cerah

Space Iklan

Warga Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur kini dapat menikmati aliran listrik setelah PT PLN (Persero) berhasil menyambungkan jaringan listrik ke desa tersebut. (Foto: Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama, Kementerian ESDM)

Jakarta, InfoInfrastruktur.com –  Sebanyak 64 kepala keluarga di Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kini dapat menikmati aliran listrik setelah PT PLN (Persero) berhasil menyambungkan jaringan listrik ke desa tersebut.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Jumat (12/6/2020) dalam siaran persnya mengatakan, saat ini peningkatan rasio elektrifikasi difokuskan ke daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T).

“Namun, pemerataan itu harus pula disertai dengan tarif listrik yang terjangkau oleh masyarakat,” ujar Agung Pribadi. Sebagai informasi, hingga bulan Mei, Rasio Desa Berlistrik di Provinsi NTT telah mencapai 93,32% dengan Rasio Elektrifikasi mencapai 86,26%.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur, Ignatius Rendroyoko melalui rilisnya menjelaskan, untuk melistriki Dusun Boleng, PLN telah membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 15,26 kms, Jaringan Tegangan Rendah (JTR ) sepanjang 10,04 kms dan 3 buah gardu dengan total kapasitas 150 kVa. Medan dan akses yang sulit menjadi tantangan tersendiri bagi PLN untuk melistriki dusun tersebut. 

Dengan tersambungnya jaringan listrik ini, rasa senang diungkapkan oleh Paul (50), warga Desa Tanjung Boleng. Ia bersama warga lainnya kini dapat tersenyum cerah dan beraktifitas lebih lama di malam hari setelah adanya sambungan listrik di desanya.

Paul bercerita, kehadiran listrik sudah sangat dinantikan oleh warga di desanya. Karena sebelumnya warga biasa menggunakan genset dan lampu minyak tanah untuk penerangan di malam hari. Kini warga senang karena dengan adanya listrik biaya jadi lebih murah jika dibanding menggunakan genset.

“Dulu sebelum ada listrik PLN, mayoritas penerangan untuk kegiatan warga di Tanjung Boleng menggunakan genset dan lampu minyak tanah. Sehari membutuhkan sekitar Rp 50.000 untuk membeli BBM, itu pun di luar biaya perawatan mesin bila ada masalah. Semenjak ada listrik PLN, token listrik kami beli Rp50.000,- sudah sebulan lebih belum habis juga meskipun aktivitas di malam hari lebih lama,” ungkap Paul yang diamini Kepala Desa Tanjung Boleng Hamzah. Ia berharap kehadiran listrik dapat mendorong pertumbuhan kegiatan ekonomi warga.

Apa yang kini dinikmati Paul dan warga Tanjung Boleng sejalan dengan upaya Pemerintah untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi, terutama untuk daerah-daerah yang hingga kini belum terjangkau akses listrik. (Mbayak Ginting)

dibaca oleh 1,519 orang

Space Iklan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*